Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara

CARA MUDAH MENGOLAH BUKU AGAR SIAP LAYAN

CARA MUDAH MENGOLAH BUKU AGAR SIAP LAYAN
Oleh Drs. WARDIJAH, M.Si
(Pustakawan Ahli Madya pada Dinas Perpustakaan dan Arsip
Provinsi Sumatera Utara)

 

1. Pendahuluan

Sesuai ketentuan pasal 14 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2014 dikatakan bahwa pengembangan koleksi perpustakaan mencakup 4 (empat) kegiatan, yaitu seleksi (selection), pengadaan (procurement), pengolahan (processing), dan penyiangan (weeding) bahan perpustakaan. Berdasarkan ketentuan tersebut mengolah buku agar siap layan merupakan kegiatan inti pelayanan teknis perpustakaan. Dalam pasal 25 ayat (1) pada Peraturan Pememerintah Nomor 24 Tahun 2014 tersebut dijelaskan juga bahwa jenis pelayanan perpustakaan terdiri atas pelayanan teknis dan pelayanan pemustaka. Mengolah buku merupakan bagian dari pelayanan teknis.

Pertanyaannya, mengapa buku harus diolah ? untuk memudahkan pemustaka di dalam mengakses informasi yang diperlukan. Sehubungan dengan itu, Sumardi (2001:25) mendefinisikan pengolahan bahan perpustakaan merupakan kegiatan inti dalam organisasi perpustakaan, dimulai bahan perpustakaan masuk sampai siap layan untuk dimanfaatkan atau dipinjamkan kepada para pemustaka. Mengingat mengolah buku merupakan kegiatan inti, tentu setiap buku harus diolah sebelum dilayankan kepada pemustaka. Ranganathan, seorang pustakawan dan matematikwan berkebangsaan India di dalam “five laws of library scince, yang dikenal dengan istilah Lima Hukum Ilmu Perpustakaan, menegaskan, di antaranya “Every book its reader” setiap buku ada pembacanya.

Filosofi itu mengandung pengertian bahwa setiap buku yang dilayankan di perpustakaan ada pembacanya, maka bagaimana caranya supaya buku itu dengan mudah dapat diakses dan  dipinjam  oleh pemustaka. Tentu buku itu harus diolah sesuai ketentuan yang berlaku, seperti dipunggung bawahnya harus diberi call number (nomor panggil), yang terdiri atas : nomor klas, 3 (tiga) huruf entri nama pengarang,  1 (satu) huruf entri judul, dan angka Arab menunjukkan banyaknya jumlah eksemplar.

2. Proses Mengolah Buku

Proses mengolah buku (bahan perpustakaan) mencakup 4 (empat) aspek  kegiatan pokok, yaitu : inventarisasi, katalogisasi, klasifikasi, dan shelving. (https://sismalib.wordprees.com/2012/07/08).

2.1 Iventarisasi

Para pustakawan dan pengelola perpustakaan tentu tidak asing dengan istilah inventarisasi. Secara etimologis, inventarisasi berasal dari kata “inventaris”, terambil dari bahasa Latin = inventarium, yang berarti daftar barang-barang, bahan dan sebagainya. Dalam kegiatan pengolahan bahan perpustakaan inventarisasi dimakanai kegiatan  pencatatan data (data logging) terhadap bahan perpustakaan yang diterima, baik dalam bentuk buku, majalah, mikro, audio visual, dan sejenisnya  kedalam buku inventaris atau buku induk.

Pertanyaannya, mengapa setiap buku atau bahan perpustakaan yang diterima harus diinventarisasi ? Jawabannya adalah :

  1. agar setiap bahan perpustakaan yang diterima dapat dikontrol keberadaannya;
  2. mudah untuk dicek mana bahan perpustakaan yang sudah dimiliki dan mana yang belum dimiliki;
  3. untuk mengetahui jenis dan ragam bahan perpustakaan yang dimiliki;
  4. untuk mengetahui jumlah bahan perpustakaan yang dimiliki dalam waktu tertentu maupun jumlah bahan perpustakaan yang hilang atau rusak;
  5. untuk bahan pembuatan statistik dan laporan;
  6. sebagai bahan evaluasi.

Pada kegiatan inventaisasi tersebut ada 2 (dua) kegiatan yang harus dilakukan, yaitu :

a. Pencatatan ke dalam Buku Induk

Buku atau bahan perpustakaan yang sudah siap diolah dan siap untuk dilayankan kepada pemustaka harus dicatatkan pada buku induk sesuai kolom yang tersedia pada buku induk. Pencatatan tersebut menandakan bahwa bahan perpustakaan tersebut adalah milik perpustakaan yang kita kelola. Dalam penomoran ke dalam buku induk ada 2 (dua) sistem dapat dilakukan yaitu :

  1. Nomor urut dimulai dari nomor 1 dan seterusnya tanpa melihat pergantian tahun.
  2. Nomor urut pada setiap tahun dimulai dengan angka 1.

Pencatatan bahan perpustakaan ke dalam buku induk biasanya memuat kolom : tanggal, nomor urut, asal, nomor induk, pengarang, judul, impressium, nomor klas, bahasa, jenis koleksi, dan jumlah. Kolom tanggal, mencatat kapan bahan perpustakaan dicatatkan dalam buku induk; kolom urut bahan perpustakaan dicatatkan berdasarkan nomor urut yang dimulai nomor 1; kolom asal, memuat berasal dari mana, apakah dari rutin, dengan kode R, pembelian dengan kode P, hadiah dengan kode H, dan lain-lain dengan kode D. Kolom nomor induk memuat nomor induk bahan perpustakaan; kolom pengarang, memuat nama pengarang; kolom judul, memuat judul buku; kolom impressium berisikan dimana buku itu diterbitkan, penerbit mana dan kapan diterbitkan; kolom nomor klas berisi nomor panggil buku; kolom bahasa berisikan buku itu teksnya menggunakan bahasa apa; kolom jenis berisikan jenis koleksi apakah buku untuk layanan anak, remaja, referensi, atau dewasa; dan kolom jumlah berisikan berapa eksemplar jumlah buku.

b. Penstempelan

Penstempelan bahan perpustakaan dilakukan dalam rangka untuk menandai kepemilikan bahan perpustakaan agar tidak mudah dicuri orang atau diperjualbelikan. Pestempelan ini dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu :

  1. Pestempelan inventarisasi distempelkan pada lembar balik halaman judul.
  2. Penstempelan kepemilikan, distempelkan pada halaman misal, 17 setiap buku sesuai kesepakatan.

2.2 Katalogisasi

Dalam pengolahan buku atau bahan perpustakaan proses selanjutnya adalah katalogisasi. Apa itu katalogisasi ? Katalogisasi terambil dari kata “katalog” , yang berarti suatu daftar yang berisikan keterangan yang lengkap dari suatu buku, dokumen atau bahan perpustakaan lainnya. Adapun katalogisasi dalam pengolahan bahan perpustakaan adalah suatu proses melakukan atau mengkatalog berbagai buku yang dimiliki oleh suatu perpustakaan.

Dalam katalogisasi tersebut ada tahapan pekerjaan yang perlu dilkukan, di antaranya membuat katalogidasi deskriptif. Cara mudah untuk melakukan katalogisasi deskriftif, yaitu dengan memperhatikan bagian-bagian buku, yaitu :

1. Kulit Buku

Pada kulit buku kadang-kadang terdapat judul buku yang disebut cover title.Judul pada kulit buku dalam katalogisasi tidak penting, terkecuali kalau judul buku tersebut berbeda dengn judul buku yang tercantum pada halaman judul buku yang disebut title page. Dengan demikian perlu diperhatikan apakah judul buku tersebut perlu dicatat dan diinformasikan kepada pemustaka dalam katalog. Sebab tidak menutup kemungkinan sebagian pemustaka akan menelusuri judul buku melalui judul kulit buku.

2. Punggung Buku

Pada punggung buku yang disebut book back biasanya terdapat judul buku. Sama halnya dengan judul yang terdapat pada kulit buku, kemungkinan tidak sama judul punggung buku dengan apa yang terdapat pada halaman judul.

3. Halaman Kosong

Halaman kosong yang disebut fly leaves merupakan  halaman tanpa teks yang terletak setelah kulit buku pada bagian depan dan bagian belakang. Halaman kosong ini berfungsi sebagai penguat jilidan buku.

4. Halaman Judul Singkat

Halaman judul singkat yang disebut half title terletak setelah halaman kosong dan berisikan judul singkat dari sebuah buku. Dengan demikian kalau pada sebuah buku terdapat judul pokok dan judul tambahan, maka yang tercantum pada judul singkat hanya judul pokok.

5. Judul Seri

Judul seri terdiri atas 2 (dua) bagian, yaitu:

a. Seri Penerbit

Yang dimaksud seri penerbit adalah sejumlah karya berjilid yang saling berkaitan dalam subyek atau bentuk, diterbitkan oleh suatu penerbit dengan menyajikan satu judul yang merangkum.

b. Seri Monografi

Apa itu itu seri monografi ? Seri monografi adalah sejumlah karya dalam bentuk monografi yang dikeluarkan oleh suatu badan korporasi dalam penampilan yang seragam.

6. Halaman Judul

Halaman judul buku yang disebut title page merupakan halaman buku yang berisikan banyak data informasi yang diberikan oleh suatu penerbit, antara lain judul buku, nama pengarang, dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam kepengaran suatu buku, seperti penerjemah, editor, dan ilustrator. Selain itu berisikan juga informasi tentang penerbit, tempat kota terbit, dan tahun terbit. Atas dasar itu halaman judul buku merupakan halaman yang sangat penting untuk diperhatikan dalam proses katalogisasi deskriptif. Mengapa dikatakan sangat penting ? Karena halaman ini merupakan sumber utama dalam mengumpulkan berbagai macam data dan informasi yang dibutuhkan dalam proses katalogisasi. Pada halaman judul buku terdapat beberapa unsur penting, di antaranya :

a. Judul Buku

Judul buku yang disebut book title, merupakan judul yang tercantum dalam halaman judul  dan merupakan judul resmi dari sebuah buku. Pada halaman judul di samping tercantum judul pokok, juga tercantum judul-judul yang lain, seperti judul tambahan, judul alternatif, dan judul paralel.

b. Nama Pengarang

Nama pengarang yang disebut author name, biasanya tercantum pada halaman judul ditulis lengkap dengan gelar-gelarnya, kalau pengarang tersebut bersifat perorangan. Lain halnya kalau  pengarangnya berupa badan atau lembaga. Di samping nama pengarang, pada halaman judul tercantum juga nama-nama lain yang terlibat dalam kepengrangan, seperti penerjemah, editor, dan penyadur.

c. Keterangan Edisi

Keterangan edisi yang disebut edtion description terdapat pada halamana judul berisikan tentang edisi atau cetakan buku. Tetapi perlu juga diingat oleh seorang pustakawan kataloger, keterangan tentang edisi atau cetakan buku bukan hanya terdapat pada halaman judul, sering juga dimuat pada halaman balik judul, pada kulit buku, atau juga dimuat pada kata pendahuluan.

Dalam proses katalogisasi deskripsi keterangan edisi, atau cetakan buku penting untuk dicantumkan dalam katalog untuk menunjukkan tingkat kemutakhiran suatu bahan perpustakaan. Dalam konteks keindonesiaan pengertian edisi dengan cetakan sangat berbeda. Edisi dimaknai kalau dalam cetakan ulang itu terdapat revisi tentang konten buku, sedangkan cetakan biasanya menunjukkan bahwa buku itu dicetak berulang-ulang.

c. Keterangan Imprint

Keterangan imprit yang disebut imprit deskription merupakan keterangan yang tercantum pada halaman judul tentang nama penerbit, tempat kota terbit dan tahun terbit. Perlu dingat oleh pustakawan kataloger bahwa ketiga unsur tersebut tidak selalu dicantumkan pada halaman judul buku, terkadang terdapat pada balik judul, atau mungkin terdapat pada halaman kulit luar bagian belakang buku. Di sini seorang kataloger dituntut untuk jeli dan teliti dalam mencermati dan menggali keterangan-keterangan penting didalam membuat katalogisasi deskripsi.

7. Halaman Balik Judul

Halaman balik judul sebuah buku seing kali terdapat multi informasi penting, di antaranya :

a. Keterangan kepengrangan;

b. Kota tempat terbit dan penerbit;

c. Tahun terbit dan tahun

d. Judul asli dari karya terjemahan; dan

e. Keterangan edisi.

8. Kata Pengantar

Kata pengantar yang sering disebut introduction merupakan catatan singkat (short notes) yang mendahului naskah atau teks, yang berisikan penjelasan-penjelasan yang diberikan oleh pengarang kepada pembaca. Penjelasan-penjelasan singkat itu dapat berupa tujuan dan alasan penulisan buku, ruang lingkup, dan pengembangan subyek yang dibahas. Ada juga kata pengantar tersebut berisikan ucapan terima kasih yang disampaikan oleh penulis kepada pihak-pihak yang membantu atas terbitnya buku yang ditulisnya.Seorang pustakawan dan pengelola perpustakaan perlu memperhatikan kata pengantar ini di dalam melakukan katalogisasi deskriptif maupun klasifikasi sebagai subyek bahan perpustakaan karena dengan memperhatikan kata pengantar tersebut akan dapat mengetatahui isi suatu buku.

9. Daftar Isi

Daftar isi yang dalam bahasa Inggris disebut  table of content biasanya terletak sesudah kata pengantar, tetapi sering juga terletak pada bagian akhir buku. Daftar isi ini bisanya berisikan judul-judul bab, yang kemudian dirinci dengan subbab-subbab atau ada juga yang sama sekali tidak diikuti  dengan anak bab. Dengan membaca dan memahami daftar isi seorang pustakawan dan pengelola perpustakaan akan mengetahui kira-kira apa isi buku, sehingga dapat membantu ketika mententukan tajuk subyek bahan perpustakaan.

10. Naskah

Naskah, yang dalam bahasanya Inggrisnya disebut tex merupakan isi buku atau konten buku yang disajikan secara sistematis dalam bentuk bab-bab, yang mendahului bab pendahuluan. Seorang pustakawan dan pengelola perpustakaan tidak harus membaca keseseluruhan teks buku untuk mengetahi subyek yang terkandung dalam buku, cukup membaca judul buku, daftar isi dan bab pendahulun.

11. Indeks

Dalam buku biasanya terdapat indeks. Indeks ini merupakan daftar nama dan subyek secara rinci yang menunjukkan pada halaman buku tempat daftar nama dan subyek tersebut tercantum. Indeks buku ini biasanya terdapat pada bagian akhir suatu buku. Akan tetapi, perlu diingat kalau sebuah buku terdiri atas beberapa jilid, biasanya indeks buku dimuat pada jilid tertentu. Indeks buku sangat penting karena harus dimasukkan dalam katalogisasi deskriptif.

12. Bibliografi

Di dalam suatu buku sering kali dijumpai bibliografi dan dalam suatu karya ilmiah merupakan suatu keharusan untuk dicantumkan. Dalam konteks ilmu perpustakaan bibliografi merupakan daftar kepustakaan yang digunakan oleh seorang pengarang dalam menulis buku. Biasnya terletak pada bagian akhir buku atau pada catatak kaki (notes poot) merupakan unsur penting karena dalam katalogisasi deskriptif bahan perpustakaan harus dimasukkan.

13. Nomor Pagina

Nomor pagina pada sebuah buku adalah nomor yang terdiri atas angka Romawi kecil dan Arab. Angka Romawi kecil menunjukkan angka yang ditulis dalam huruf Romawi, misal i, ii, iii, dan seterusnya. Begitu pun dengan angka Arab yang merupakan aljabar, menunjukkan angka, misal 1, 2,3 dan seterusnya. Angka Romawi kecil dalam suatu buku dituliskan pada penomoran halaman kata pengantar sampai dengan daftar isi. Sedangkan angka Arab dituliskan untuk penomoran bab pendahuluan sampai dengan halaman terakhir suatu buku. Dalam katalogisasi deskriptif  naomor pagina penting untuk dimasukkan karena menyangkut bentuk pisik suatu buku.

2.3 Klasifikasi Bahan Perpustakaan

Dalam bidang perpustakaan klasifikasi bahan perpustakaan dimaknai suatu kegiatan dalam mengelompokkan bahan perpustakaan, baik berupa buku atau non-buku secara sistematik dengan menggunakan sistem tertentu dalam rangka untuk mempermudah pencarian informasi, yang dalam bahasa Inggrisnya disebut informatian search. Dalam sistem klasifikasi dikenal ada 2 (dua) macam klasifikasi, yaitu :

  1. Klasifikasi artifisial, yang dalam bahasa Inggrisnya disebut artificial classification, yaitu mengkelompokkan bahan perpustakaan berdasarkan sifat-sifat yang “kebetulan” ada pada bahan perpustakaan tersebut. Misal mengelompokkan berdasarkan warna kulit buku : yang merah dengan warna merah, hijau dengan hijau kuning dengan kuning. Atau mengelompokkan bahan perpustakaan berdasarkan tingginya : yang 25 cm dengan 25 cm, yang tingginya 28 cm dengan 28 cm. Begitu seterusnya.
  2. Klasifikasi pundamental, yang dalam bahasa Inggris disebut fundamental classification, yaitu mengkelompokkan bahan perpustakaan berdasarkan konten atau subyek buku secara kontan sekalipun kulit atau format bahan perpustakaan tersebut berganti-ganti. Macam inilah sistem klasifikasi yang digunakan di perpustakaan.

Lalu bagaimana sistem klasifikasi bahan perpustakaan yang berlaku di dunia internasional ? Dilihat dari aspek historisnya sistem pengklasifikasian bahan perpustakaan yang berlaku di dunia internasional ada yang menggunakan Dewey Decimal Classification  (DDC) ada juga yang menggunakan Universal Decimal Classification (UDC). Diferensi antara DDC dengan UDC adalah DDC menggunakan angka Arab dengan bilangan persepuluh dengan notasi sekurang-kurangnya 3 angka, sedangkan UDC notasi sekurang-kurangnya 1 (satu) angka Arab. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada contoh tabel di bawah ini :

NOTASI DDC SUBYEK NOTASI UDC
100

110

370

375

Filsafat

Metafisika

Pendidikan

Kurikulum

1

11

37

375

Catatan : Dalam UDC bilangan 0 tidak dipergunakan.

Ada juga sistem klasifikasi yang digunakan di perpustakaan Congress America, yaitu Libary of Congress Classification  (LCC), yang dikembangkan sejak tahu 1899 dan diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1901. Sistem ini mengelompokkan bahan perpustakaan dengan menggunakan simbol huruf Latin dan angka Arab secara kombinasi. Setiap kelas utama  (main class) menggunakan notasi berupa inisial, yaitu huruf A-Z, kecuali huruf I dan O tidak digunakan. Sistem ini mengelompokkan bahan perpustakaan ke dalam 12 (dua belas) kelas utama, yaitu sebagai berikut :

A – Karya Umum

B – Filsafat

BL – Agama

C – Sejarah

D – Sejarah dan Topografi

E – Amerika

K – Hukum

L – Pendidikan

P – Bahasa dan kesusatraan

S – Pertanian

T – Tekonogi

Z – Bibliogarfi dan Perpustakaan.

Dari penjelasan di atas jelas bahwa DDC merupakan sistem klasifikasi yang paling populer dan paling banyak dipakai di beberapa negara termasuk di Idonesia melalui Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, sehingga banyak juga perpustakaan yang menggunakan DDC, sekarang DDC Edisi 23. Dalam sistem DDC bahan perpustakaan dikelompokkan ke dalam bilangan 10, sehingga sistem ini disebut sistem persepuluh. Jika diurai bahan perpustakaan menurut DDC dikelompokkan ke dalam kelas utama (main clacces) dengan rincian sebagai berikut :

000 – Karya Umum

100 – Filsafat

200 – Agama

300 – Ilmu Sosial

400 – Bahasa

500 – Ilmu Murni

600 – Ilmu Terapan

700 – Kesenian

800 – Kesustraan

900 – Sejarah dan Geografi

2.3.1 Prinsip-Prinsip Dasar Klasifikasi DDC
2.3.2 Prinsip Persepuluh

Pada uraian di atas telah dijelaskan bahwa menurut DDC bahan perpustakaan dikelompokkan ke dalam bilangan per sepuluh, yaitu dari kelas 000 sd 900. Dari setiap kelas utama dapat dibagi ke dalam 10 divisi yang merupakan subordinasi. Secara acak atau random dapat dicontohkan, misal golongan 300 dapat dirinci sebagai berikut :

300 –  Ilmu Sosial

310 –  Statistik

320 –  Ilmu Politik

330 –  Ekonomi

340 –  Hukum

350 –  Administrasi Negara

360 –  Patalogi Sosial

370 –  Pendidikan

380 –  Transportasi dan Perdagangan

390 –  Adat-Istiadat

Jika diperhatikan dari uraian tersebut di atas, semuanya menggunakan kelipatan 10 dan masing-masing divisi dapat diurai menjadi 10 seksi yang merupakan subordinat. Misal, ambil contoh kelas 370 dapat dirinci lagi menjadi :

370 – Pendidikan

371 – Sekolah

372 – Pendidikan Dasar

373 – Pendidikan Menengah

374 – Pendidikan Luar Sekolah

375 – Kurikulum

376 – Pendidikan Wanita

377 – Sekolah dan Agama

378 – Pendidikan Tinggi

379 – Pendidikan Khusus

Dari setiap seksi di atas tersebut dapat dirnci lagi menjadi subseksi. Contoh kita ambil kelas 371 (Sekolah) dapat dirinci sebagai berikut :

371 – Sekolah

371.1 – Sistem Sekolah dan Tenaga Mengajar

371.2 – Administrasi Pendidikan

371.3 – Metode Pengajaran

371.4 – Bimbingan dan Penyuluhan

371.5 – Disiplin Sekolah

371.6 – Gedung dan Peralatan

371.7 – Kesehatan dan keamanan Sekolah

371.8 – Siswa

371.9 – Pendidikan Khusus dan Luar Biasa

Dari masing-masing subseksi tersebut dapat dirinci menjadi 10 kelas yang merupakan subordinasi. Jika dikembangkan dengan menggunakan prinsip dasar desimal, maka pencarian secara berjenjang dari masing-masing subseksi itu tidak akan ada habis-hasisnya. Sehingga, tidak heran satu kelas utama (main classes) akan mempunyai perincian terkecil sampai dengan 11 digit.

2.3.3 Tabel-Tabel Pembantu

Seorang pustakawan dan pengelola perpustakaan harus memahami mengapa DDC banyak digunakan di berbagai negara karena salah satu kelebihan DDC selain memilki tabel utama juga mempunyai 7 buah tabel pembantu, yang disebut Auxiliary Tables. Auxiliary tables itu terdiri atas :

1. Tabel Subdivisi Standar, yang disebut Standard Subdivition;

2. Tabel Wilayah, yang disebut Area Table;

3. Tabel Bentuk Sastra, yang disebut Subdivitions of Individual Literatures;

4. Tabel Bentuk Bahasa, yang disebut Subdivition of Individual Languages;

5. Tabel Ras, Etnis, dan Kelompok Kebangsaan, yang disebut Racial, Ethnic National Group

6. Tabel Benagai Macam Bahasa, yang disebut  Laguage Table

7. Tabel Kelompok-Kelompok orang, yang disebut Person Table

2.3.4 Indeks DDC

Di samping memahami Tabel-Tabel Pembantu DDC, seorang pustakawan klasifayer juga, hendaknya memahami indeks DDC. Dalam  DDC edisi 23 volume 4 yang berjudul, Dewey Decimal Classification and Relative Indekx, secara khusus membahas tentang indeks. Inilah salah satu kelebihan DDC sebagai suatu sistem klasifikasi telah tersedia adanya indeks, yang sangat membantu bagi seorang pustakawan klasifayer di dalam melakukan proses klasifikasi.

Indeks DDC ini sejak terbitan edisi ke-16, dipisahkan dan dijilid tersendiri, yang memuat lebih dari 80.000 istilah atau terminalogi. Mengapa seorang pustakawan klasifayer harus memahami indeks DDC ini ? Karena Indeks DDC ini berfungsi :

  1. menunjukkan semua aspek topik-topik yang tersusun secara sistematis dalam bagan klasifikasi; dan
  2. menunjukkan semua aspek yang berhubungan dari satu subyek yang tersebar dalam bagan kalsifikasi.

2.3.5 Langkah Penentuan Subyek

Cara mudah untuk menentukan suatu subyek yang terkandung dalam suatu bahan perpustakaan, seorang pustakawan dan pengelola perpustakaan dapat menempuh langkah-langkah sebagai berikut :

1. Melalui Halaman Judul

Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa untuk menentukan suatu subyek bahan perpustakaan yang diklasifikasi dapat ditelusuri melalui halaman judul atau yang disebut title page karena suatu judul bahan perpustakaan dengan jelas menunjukkan subyek yang terkadung di dalamnya. Contoh : Buku berjudul “Pengantar Koperasi” sudah barang tentu subyeknya mengenai koperasi.

2. Melalui Daftar Isi

Jika melaui judul buku, seorang pustakawan klasifayer belum juga dapat menentuk subyek buku tersebut, dapat menelaah melui daftar isi atau table of contants. Karena biasanya daftar isi suatu buku atau bahan perpustakaan sering kali memberikan orientasi terhadap subyek yang terkandung di dalamnya melalui bab-bab dan bagian-bagiannya. Misal judul buku yang tidak dengan jelas menunjukkan subyeknya “ Habis Gelap Terbitlah Terang”. Judul buku tersebut jelas tidak dapat ditebak apa subyeknya, oleh karena itu pustakawan klasifayer menelaah dan menganalisisnya melalui langkah-langkah lain.

3. Melalui Jaket Buku

Seorang pustakawan klasifayer harus jeli dan teliti terkadang pada jaket buku atau book jacket terdapat keterangan tentang tujuan dan isi buku.

4. Melalui Kata Pengantar

Apabila untuk menentukan subyek buku tidak juga didapat melalui judul buku, daftar isi, jaket buku, seorang pustakawan klasifayer dapat menelaah melalui kata pengantar atau yang disebut preface. Dalam preface tersebut biasanya memberikan gambaran atau deskripsi terhadap isi buku atau subyek yang terkandung di dalamnya.

5. Membaca Isi Bab

Jika dalam menentukan subyek buku tidak terdapat juga melaui judul, daftar isi, jaket buku, dan preface maka langkah berikutnya seorang pustakawan klasifayer dapat menelaah melalui membaca satu bab atau bab demi bab sebagai cara alternatif untuk mendapatkan penentuan subyek buku. Cara ini tentu sangat membutuhkan kecermatan dalam merangkum keseluruhan isi bab.

6. Melalui Sumber Bibliografi

Dalam sumber bibliografi biasanya mencantumkan nomor klasifikasi dari setiap entri, misal Bibliografi Nasional Indonesia,Berita Bibliografi, dan Book in Print.

7. Minta Petujuk kepada Ahlinya

Langkah terakhir barang kali, kalau melaui membaca bab demi bab juga tidak dapat menentukan subyek buku. Begitu juga melalui penelusuran sumber bibliografi juga tidak didapat, tentu langkah terakhir bertanya kepada ahlinya, yang biasa disebut spesialis subyek.

2.4 Shelving

Kegiatan terakhir mengolah buku adalah menyusun buku di rak buku yang disebut shelving.

3. Penutup

Demikian uraian singkat tentang cara mudah mengolah buku agar siap dilayankan kepada pemustaka. Semoga saja bermanfaat.

 

DAFTAR PUSTAKA 

 

Dewey, Melvil. Dewey Decimal Classification and Relative Index. Ed. 23

Dublin, OH: Online Computer Library Center, 2011.

Eryono, Muh. Kailani. Materi Pokok Pengolahan Bahan Pustaka. Jakarta : Universita Terbuka, Depdikbud, 1993.

Pedoman Pusat Jasa Perpustakaan. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI, 1996.

Pedoman Pengolahan Bahan Perpustakaan Perpustakaan Nasional RI.

Jakarta : Perpustakaan Nasional RI, 1993.

Peraturan Katalogisasi Indonesia. Jakarta : Perpustakaan Nasional RI, 1994.

Peraturan Penjajaran ALA. Jakarta : Pusat Pembinaan Perpustakaan, 1986.

Perpustakaan Nasional RI, 2013. INDOMARC : Format Marc Indonesia

=The Indonesian Marc Format. Ed. Rev.

Perpustakaan Nasional RI, 2016. Pedoman RDA : Resource Description and Acess. Jakarta.

Peraturan Katalogisasi Indonesia. Jakarta : Perpustakaan Nasional RI, 1994.

Peraturan Penjajaran ALA. Jakarta : Pusat Pembinaan Perpustakaan, 1986.

     Perpustakaan Nasional RI, 2013. INDOMARC : Format Marc Indonesia

=The Indonesian Marc Format. Ed. Rev.

Perpustakaan Nasional RI, 2016. Pedoman RDA : Resource Description and Acess. Jakarta

Sulistyo-Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta : Gramedia, 1993.

Sumadji P. Mengelola Perpustakaan. Yogyakarta : Kanisius, 2001

Taylor, Arlene G. Wynar’s Introduction to Cataloging and Classification.

9th rev. ed. Englewood , Colorado: Libraries unlimited, 1988.

Perpustakaan Nasional. Undang-undang No. 43 tahun 2007 Tentang Perpustakaan. Jakarta : Perpustakaan Nasional, 2007.

Perpustakaan Nasional. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan dan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Jakarta : Perpustakaaan, 2016.

Anglo American Cataloging Rules. 2nd ed. 2002 revision. Chicago : American Library Association, 2005.

Chan, Lois Mai. Cataloging and Classification : an Introduction. New

York : McGraw Hill, 1981.

Hart, Amy. 2010. The RDA Primer: a guide for occasional cataloger.

Santa Barbara : Lin Worth

The RDA Workbook : Learning the basic of resource description and access / Margareth Mering, editors. Santa Barbara, Calif. : Libraries Unlimited, 2014

Maxwell, Robert L. 2014. Maxwell’s Handbook for RDA : exploring and ilustrating RDA : Resource description and Access using MARC 21. London : Facet Publishing

Taylor, Arlene G. Wynar’s Introduction to Cataloging and Classification.

9th rev. ed. Englewood , Colorado: Libraries unlimited, 1988.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on google
Google+
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Our Related Posts

Related Posts

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top