
Sumber Foto : Koleksi Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara
PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI PUSAT KEGIATAN SISWA UNTUK MENINGKATKAN LITERASI
Target orang tua meyekolahkan anak adalah agar anak mendapatkan pendidikan karakter, memiliki keahlian, mempunyai tingkat literasi yang standar dan pada akhirnya memiliki pekerjaan yang sesuai dengan apa yang mereka cita-citakan.
I. PENDAHULUAN
Target orang tua meyekolahkan anak adalah agar anak mendapatkan pendidikan karakter, memiliki keahlian, mempunyai tingkat literasi yang standar dan pada akhirnya memiliki pekerjaan yang sesuai dengan apa yang mereka cita-citakan.
Pendidik (guru) dan tanaga pendidik (pustakawan sekolah) memiliki harapan agar anak didik mendapatkan pembelajaran yang maksimal agar harapan orang tua mereka dapat tercapai.
Pemerintah mengharapkan semua anak Indonesia menjadi anak yang memiliki pendidikan yang baik karena tujuan pemerintah sesuai Pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 adalah mecerdaskan kehidupan bangsa.
Harapan ini sulit tercapai, karena beberapa faktor antara lain, lemahnya pengawasan orang tua, kurangnya kemampuan pendidik/tenaga pendidik dalam mantrasfer ilmu mereka, sedikitnya jam pelajaran sehingga proses pembelajaran tidak maksimal dan anak didik menjadi kurang kemampuannya dalam berbagai hal, sarana /prasarana yang tidak representatif dan banyak lagi faktor yang mempengaruhi.
Permasalahan ini perlu tindaklanjuti, perpustakaan sekolah harus hadir menjadi jembatan pemutus mata rantai beberapa permasalahan di atas. Perpustakaan sekolah harus memiliki komitmen menjadi solusi dalam meningkatkan literasi pendidik , tenaga pendidik dan siswa untuk mencetak generasi emas di masa Indonesia emas tahun 2045.
Perpustakaan Sekolah harus mampu meningkatkan literasi seluruh civitas sekolah melalui kegiatan yang dipusatkan di perpustakaan sekolah agar harapan orang tua , pendidik/tenaga pendidik dan pemerintah tercapai.
II. PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI PUSAT KEGIATAN SISWA UNTUK MENINGKATKAN LITERASI
Keberadaan perpustakaan sekolah dan peningkatan literasi anak didik belum berjalan maksimal karena tiadak adanya kegiatan yang inovatif dan minimnya kreatifitas Kepala Sekolah, Guru dan pustakawan sekolah dalam memfungsikan perpustakaan sebagai pusat kegiatan.
Perpustakaan Sekolah/Madrasah Bafadal dalam Benediktus (2012) menyatakan definisi khusus untuk perpustakaan sekolah, yaitu perpustakaan sekolah adalah suatu unit kerja dari suatu sekolah yang mengelola bahan-bahan pustaka, baik berupa buku-buku maupun berupa bukan buku (non book material) yang diatur secara sistematis menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber infomasi oleh setiap pemustaka dalam lingkup sekolah. Rahayuningsih (2007:6) juga menyampaikan pengertian per pustakaan sekolah adalah perpustakaan yang melayani para siswa, guru, dan karyawan suatu sekolah tertentu. Perpustakaan sekolah didirikan untuk menunjang pencapaian tujuan sekolah, yaitu pendidikan dan pengajaran seperti digariskan dalam kurikulum sekolah.( Isi Media Informasi 29 No.2 2020.cdr diakses 7 Maret 2025).
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut maka Perpustakaan sekolah adalah jantungnya Pendidikan, slogan ini masih terus digunakan untuk melambangkan bahwa pentingnya perpustakaan sekolah. Manusia hidup karena masih berdegub jantungnya. Demikian pula sekolah masih dinyatakan hidup karena masih ada giat perpustakaannya.
Namun kenyataaanya kondisi perpustakaan sekolah sangat memprihatinkan, perpustakaan hanya digunakan sebagai gudang buku paket, tempat aktifitas pemijaman dan pegembalian buku paket. Tidak ada aktifitas lain sehingga kondisi perpustakaan sekolah seperti kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau. Perpustakaan sekolah yang merupakan jantungnya pendidikan semakin melemah, sehingga gerakannya juga mejadi lemah dan tak berdampak apa-apa bagi pemustakanya.
Hal ini terbukti dari hasil tes PISA 2018 menyatakan bahwa sebanyak 70 persen siswa Indonesia belum menguasai kemampuan membaca level dua atau di bawah kompetensi minimum. Data itu juga selaras dengan hasil Asesmen Nasional (AN) 2021, yakni bahwa satu dari dua peserta didik kita belum mencapai kompetensi minimum literasi. Lantas perlu dipertanyakan apakah selama ini guru sudah memperlakukan perpustakaan sekolah sebagaimana fungsinya? Apa hanya sebagai gudang buku? (Perpustakaan Sekolah, Rumahnya Literasi | Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kemendikdasmen diakses tanggal 7 Maret 2025)
Berdasarkan kondisi ini maka eksistensi perpustakaan sekolah perlu dikuatkan untuk menunjang proses pembelajaran sesuai kurikulum merdeka yang sekarang diterapkan di sekolah. Kurikulum merdeka mengajarkan siswa untuk mengeksplor kemampuan dan bakatnya secara mandiri. Untuk mengasah kemampuan dan bakat tersebut maka guru (pendidik) harus berkolaborasi dengan perpustakaan sekolah. Perpustakaan Sekolah difungsikan memfasilitasi semua aktifitas siswa melalui koleksi perpustakaan dan sarana/prasarana yang ada.
Sesuai tujuan perpustakaan sekolah yaitu memfasilitasi seluruh aktifitas pemustaka khususnya siswa maka fungsi perpustakaan sekolah adalah “Menurut Rohanda (2000: 2) fungsi perpustakaan yaitu sebagai pusat kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan seperti tercantum dalam kurikulum sekolah, pusat penelitian sederhana yang memungkinkan para siswa mengembangkan kreativitas dan imajinasinya, dan pusat membaca buku-buku yang bersifat rekreatif dan mengisi waktu luang (buku-buku hiburan). (Pengertian, Fungsi dan Tujuan Perpustakaan Sekolah ~ Fatkhan.web.id diakses tgl 17 Feburuari 2025).
Perpustakaan di sekolah bukan menjadi pajangan atau pelengkap dari institusi pendidikan saja, tetapi juga memiliki manfaat yang baik untuk peserta didik. Berikut ini merupakan beberapa manfaat perpustakaan di sekolah:
- menimbulkan rasa cinta peserta didik terhadap buku sehingga dapat meningkatkan budaya minat baca;
- memberikan pengalaman belajar yang lebih dan lengkap selain di ruang kelas;
- membantu peserta didik dan guru untuk mendapatkan informasi yang diinginkan;
- menanamkan kebiasaan belajar secara mandiri dan membentuk peserta didik menjadi pelajar sepanjang hayat;
- membantu peserta didik dalam menguasai materi pelajaran yang disampaikan oleh guru;
- membantu guru untuk mendapatkan dan menyusun materi pelajaran;
- membantu peserta didik untuk menyelesaikan tugas tepat waktu; dan
- membantu warga sekolah untuk mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi di seluruh civitas sekolah.( Perpustakaan Sekolah dan Programnya)
Dari fungsi dan manfaat perpustakaan maka perpustakaan sekolah jangan hanya dijadikan pajangan atau instalasi yang hanya menyimpan buku-buku khususnya buku paket. Perpustakaan sekolah sebaiknya dikelola secara professional sesuai Standar Nasional Perpustakaan yang tercantum dalam Peraturan Perpustakaan Nasional RI Nomor 4 Tahun 2024 tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah/Madrasah. Dalam peraturan tersebut diatur tentang aspek-aspek atau komponen-komponen perpustakaan sekolah/madrasah yang meliputi tentang :
1) Koleksi, sesuai kebutuhan pemustaka;
2) Sarana dan prasarana, memiliki gedung/ruang yang nyaman, bersih;
3) Layanan,bertujuan meningkatkan literasi dan kreatifitas;
4) Ketenagaan/SDM,memiliki kwalifikasi ilmu perpustakaan;
5) Penyelenggaraan,memiliki SK pendirian, Nomor Pokok Perpustakaan (NPP), visi/misi;
6) Pengelolaan, memiliki anggaran, rencana kerja;
7) Innovasi/kreatifitas, program innovasi/kreatifitas, keunikan;
8) Tingkat kegemaran Membaca (TGM),persentase jumlah kunjungan, rasio jumlah koleksi;
9) Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM),pemerataan akses layanan.
Seluruh aspek/komponen ini harus dipenuhi oleh perpustakaan sekolah/madrasah agar perpustakaan dapat berfungsi secara maksimal digunakan oleh pemustaka sesuai standar yang telah ditetapkan tersebut.
Melihat semua aspek /komponen tersebut maka perpustakaan harus menjadi pusat aktifitas civitas sekolah. Guru dan pustakawan harus berkolaborasi menciptakan innovasi dan kreatifitas dalam mengaplikasikan kurikulum.
Ada beberapa kegiatan yang dapat laksanakan di perpustakaan sekolah antara lain:
- Belajar seni musik, seni tari, seni ukir, seni drama, seni bela diri dan lain-lain, pustakawan dapat berkolaborasi dengan guru bidang kesenian dan guru olah raga.
- Pelatihan menulis, membaca nyaring, mendongeng, Master of Ceremony, public speaking, dan berbagai macam seminar dan work shop, pustakawan dapat berkolaborasi dengan guru Bahasa Indonesia dan guru Bahasa Inggeris .
- Belajar agama, praktek sholat, ceramah, pesantren kilat, belajar lagu-lagu Rohani, belajar etika dan lain-lain, berkolaborasi dengan guru agama dan guru Bimbingan Penyuluhan (BP).
- Praktek membuat robot, memperbaiki mesin sepeda motor dan alat-alat elektronik, membuat sabun cuci piring dan lain-lain, pustakawan bisa berkolaborasi dengan guru kimia, biologi dan semua guru yang dapat menambah wawasan dan keterampilan siswa.
- Mengadakan perlombaan, pemilihan duta baca, lomba pidato, lomba menulis dan lain-lain, erkolaborasi dengan semua guru dan pihak lain.
Semua kegiatan ini dilaksanakan berbasis koleksi/buku yang ada di perpustakaan, dan seluruh aspek/komponen yang ada di perpustakaan. Dengan berbagai kegiatan yang dilaksanakan tersebut maka akan lahir innovasi /kreatifitas siswa dan pada akhirnya siswa akan memiliki karakter, keterampilan dan tingkat literasi yang standar sehingga akan mudah mendapatkan pekerjaan ataupun menciptakan lapangan kerja.
Perpustakaan yang dijadikan pusat kegiatan akan menghasilkan innovasi dan kreatifitas siswa sehingga tujuan negara mencerdaskan kehidupan bangsa akan terwujud dengan meningkatnya literasi siswa dan akan lahir generasi emas di tahun Indonesia emas yang terbentang dihadapan kita semua tahun 2045.
III. KESIMPULAN
Mengingat pentingnya perpustakaan sekolah untuk mendongkrak tingkat literasi siswa, maka sudah saatnya perpustakaan hadir di tengah-tengah sekolah sebagai pusat pembelajaran yang innovativ dan kreatif.
Kondisi perpustakaan sekolah harus secepatnya diperbaiki mengikuti standar yang ada, agar fungsinya sebagai pusat belajar yang representative di sekolah membuat siswa senang berkunjung ke perpustakaan. Perpustakaan dijadikan tempat berkumpul yang asik dan menambah pengetahuan dengan ragam kegiatannya. Di perpustakaan mereka menemukan bakat dan jati dirinya melalui kegiatan-kegiatan yang menyenangkan diluar belajar di dalam kelas.